MAKALAH
TEORI -TEORI DALAM PEMBELAJARAN
Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah
STRATEGI PEMBELAJARAN
Dosen pengampu: Bpk.Drs.Akhirin Ali,M.Ag.
DI SUSUN OLEH :
1.AHMAD SOLIKIN 123911410
2.IZZATUN NIKMAH 123911418
3.SUJANAH 123911864 4.ARIFIN 123911412
5.MASKURI 123911841
6.SITI MASRUKAH 123911858
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
( IAIN WALISONGO SEMARANG )
DI UNISNU JEPARA
2013
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur
hanya untuk Allah SWT yang telah memberikan
taufik dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Sholawat
dan salam semoga senantiasa dicurahkan Allah
SWT kepada Nabi Muhammad SAW , keluarganya ,
dan para sahabat-sahabatnya.
Makalah ini kami susun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Strategi Pembelajaran ,dengan judul “ TEORI-TEORI DALAM PEMBELAJARAN “ dengan dosen
pengampu : Bapak.Drs.H.Akhirin Ali,M.Ag. Terima kasih kami ucapkan kepada beliau atas bimbingan dan sarannya sehingga terwujud makalah ini.
Dan apabila dalam penyusun
makalah ini ada kesalahan dan
kekeliruan , penyusun minta maaf .Kritik
dan saran sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Jepara
, 14 Oktober 2013
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Secara pragmatis, teori belajar merupakan prinsip umum atau
kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah
fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.
Terjadinya interaksi antara mengajar dengan belajar, sebenarnya
berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak,
masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi pendidik walaupun
dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga melakukan
belajar.
Di dalam kelas ada berbagai cara atau bentuk pembelajaran yang
biasa digunakan oleh para pendidik seperti pembelajaran yang menekankan
latihan, hafalan, pengulangan, pemahaman, dan lain sebagainya. Cara atau bentuk
pembelajaran bersumber dari teori atau konsep psikologi tertentu. Dalam
psikologi belajar dikenal beberapa aliran yang masing-masing mempunyai konsep
atau teori tersendiri tentang pembelajaran. Setiap teori pun mempunyai
implikasi tersendiri dalam penyusunan kurikulum.
Dengan demikian, agar
seorang pendidik mempunyai wawasan yang lebih luas tentang teori pembelajaran,
maka konsep atau teori pembelajaran tersebut harus diketahui dan dikuasainya
lebih mendalam. Hal tersebut dimaksudkan dalam kegiatannya dapat memperoleh
hasil lebih optimal sebagaimana yang diharapkan.
Dalam makalah ini, penulis
akan memaparkan beberapa teori dalam pembelajaran yang meliputi; teori fitrah, teori
koneksionisme, teori psikologi daya, dan teori gestalt.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, makalah ini akan
membahas tentang teori-teori belajar dalam pembelajaran, dengan berpijak pada
sub pokok masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian teori dan definisi belajar dalam pembelajaran
?
2. Apa saja teori-teori belajar dalam pembelajaran ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori dan Definisi Belajar dalam Pembejaran.
1. Pengertian Teori
Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, teori dalam konteks pendidikan,
dapat dipahami dalam dua perspektif, yaitu:
Pertama, "teori"
dipergunakan oleh para pendidik untuk menunjukkan hipotesis-hipotesis tertentu
dalam rangka membuktikan kebenaran-kebenaran melalui ekspresimentasi dan
observasi serta berfungsi menjelaskan pokok bahasanya.
Menurut Nujayhi, seorang
ahli pendidikan Mesir Kontemporer merefleksikan ketika mengatakan, bahwa
perkembangan-perkembangan dibidang psikologi eksiperimental membawa kesan-kesan
ke dalam dunia pendidikan, sebagaimana yang terdapat pada bidang ilmu
pengetahuan khusus.
Kedua, "teori"
menunjuk kepada bentuk asas-asas yang saling berhubungan yang mengacu pada
petunjuk praktis.
Dalam pengertian ini, bukan hanya mencakup pemindahan ekspalanasi
fenomena yang ada, namun termasuk di dalamnya mengontrol atau membangun
pengalaman.
Sedangkan menurut Hamzah B.
Uno, teori merupakan seperangkat proposisi yang di dalamnya memuat tentang ide,
konsep, prosedur, dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variabel yang
saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis, dan
diuji serta dibuktikan kebenarannya.
Dari pandangan Hamzah
tentang teori di atas, maka akan tergambar bahwa teori merupakan sebuah sistem
yang dapat diuji kebenarannya oleh siapapun dan terbuka untuk dikaji ulang
dalam perspektif yang sama, dan mungkin dapat digantikan dengan sistem baru,
yang sudah mengalami kajian dan penelitian lain.
Dalam pendidikan Islam, nilai-nilai al-Qur'an merupakan elemen
dasar dalam kurikulum dan lembaga pendidikan, tidak boleh tidak, harus perhatian membawa peserta didiknya
sesuai dengan nilai-nilai Qur'ani tersebut. Praktik-praktik harus dilakukan
oleh para pendidik dan pertimbangan-pertimbangan nilai tidak dapat terbatasi
dengan penelitian-penelitian ilmiah saja.
Selanjutnya apabila
menerima teori ilmiah sebagai paradigma bagi teori pendidikan dengan
meninggalkan fakta-fakta metafisika dari al-Qur'an, maka ilmu pengetahuan
demikian hanya berkenaan dengan obyek-obyek yang dapat diamati dengan panca
indra. Ini berarti, teori ilmiah tidak dapat meliputi unsur yang tidak dapat
diamati dan diuji secara ilmiah.
2. Definisi Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara etimologis
belajar memiliki arti "berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu".
Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk
mencapai kepandaian atau ilmu.
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku manusia berdasarkan
pengalaman dan latihan, dari belum tahu menjadi tahu, dari pengalaman yang
sedikit kemudian bertambah.
Hilgard sebagaimana dikutip Wina Sanjaya menulis bahwa learning is
the process by wich an activity originates or changed through training
producers (wether in the laboratory or in the natural enviorenment). Bagi
Hilgard, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik
melalui kegiatan berupa pelatihan baik di laboratorium maupun di lingkungan
yang alamiah. Hal ini dimaksudkan bahwa dari manapun sumber perubahan itu
asalkan melaui pelatihan maupun pengalaman dapat dikatakan sebagai kegiatan
belajar, dan yang penting untuk proses perubahan tingkah laku ini ditimbulkan
sebagai akibat adanya interaksi dengan lingkungan sekitar.
Reber, penyusun buku
Dictionary of Psychology, sebagaimana dikutip Muhibbin Syah, membatasi
pengertian belajar dalam dua definisi, yaitu: Proses memperoleh pengetahuan,
dan suatu perubahan kemampuan bereksi yang relatif langgeng sebagai hasil
latihan yang diperkuat.
Sedangkan dalam perspektif
agama Islam, belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia, sebagai kewajiban setiap individu Muslim-Muslimat dalam
rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupannya meningkat.
Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadalah /58: 11
Æìsùöt………….. ª!$#
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
öNä3ZÏB
tûïÏ%©!$#ur
(#qè?ré&
zOù=Ïèø9$#
;M»y_uy
4 ª!$#ur
$yJÎ/
tbqè=yJ÷ès?
×Î7yz
ÇÊÊÈ
… Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat…
Di sisi lain, Allah SWT, melalui Rasul-Nya menganjurkan orang Islam
belajar hingga ke negeri China dan memerintahkan supaya menuntut ilmu dari
buaian sampai ke liang lahat, menunjukkan bahwa agama Islam memandang
pentingnya untuk belajar.
Dari beberapa uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa belajar
merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan,
dan sikap. Karena belajar adalah dimulai sejak manusia lahir sampai akhir
hayat. Salah satu contoh pada waktu bayi, seorang bayi menguasai
keterampilan-keterampilan yang sederhana, seperti memegang botol dan mengenal
orang-orang di sekelilingnya. Ketika menginjak masa kanak-kanak dan remaja,
sejumlah sikap, nilai, dan keterampilan berinteraksi sosial dicapai sebagai
kompetensi, dan seterusnya hingga dewasa berbagai keterampilan dimilikinya
sesuai dengan keahlian dan profesi masing-masing. Islam memberi suatu makna
bahwa belajar bukan hanya sekadar upaya perubahan perilaku, tetapi belajar juga
merupakan konsep yang ideal, karena sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
B. Teori-teori Belajar dalam Pembelajaran.
Manusia diciptakan Allah swt, dalam struktur yang paling baik di
antara makhluk Allah yang lain. Struktur manusia terdiri atas unsur jasmaniah
(fisikologis) dan rohaniah (psikologis). Dalam struktur jasmaniah dan rohaniah
itu, Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan
berkembang, dalam psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut
aliran psikologi behaviourisme disebut prepotence reflexes (kemampuan dasar
yang secara otomatis dapat berkembang).
Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan mengalami perkembangan
sampai kepada proses pembelajaran. Dalam perkembanganya merupakan suatu
konsep-konsep atau teori-teori dalam aktivitas kegiatan belajar-mengajar.
Dalam kaitanyan dengan
proses pembelajaran, ditemukan ada beberapa teori yang telah dikenal secara
umum, diantaranya: teori fitrah, teori koneksionisme, teori psikologi daya, dan
teori gestalt.
1. Teori Fitrah
Dalam pandangan agama Islam kemampuan dasar atau pembawaan itu disebut
dengan fitrah, kata yang berasal dari fathara, dalam pengertian etimologis mengandung
arti kejadian. Kata fitrah disebutkan dalam al-Qur'an surah.Ar-Ruum/30: 30
óOÏ%r'sù
y7ygô_ur
ÈûïÏe$#Ï9
$ZÿÏZym
4 |NtôÜÏù
«!$#
ÓÉL©9$#
tsÜsù
}¨$¨Z9$#
$pkön=tæ
4 w
@Ïö7s?
È,ù=yÜÏ9
«!$#
4 Ï9ºs
ÚúïÏe$!$#
ÞOÍhs)ø9$#
ÆÅ3»s9ur
usYò2r&
Ĩ$¨Z9$#
w
tbqßJn=ôèt
ÇÌÉÈ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada
agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “
Di samping itu terdapat hadis Rasulallah saw.:
حَدَّ ثَنَاأَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلاَعْمَش عَنْ أَبِىْ صَالِحٍ
عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلهم,
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يٌوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوّدَانِهِ اَوْ
يُنَصّرَانِهِ اَوْيُشَرِّكَانِهِ (رِوِاهُ اَحمَد)
”Abu Mu'awiyah menceritakan
kepada kami, dari al-A'masy dari Abi Shalih dari Abi Hurairah r.a berkata:
Rasulallah saw. telah bersabda: setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah,
maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau musyrik”. (HR
Ahmad).
Dari
pengertian al-Qur'an dan Hadis di atas, dapat diambil pengertian secara
terminologis sebagai berikut:
a. Mengandung implikasi pendidikan yang berkonotasi kepada paham
nativisme. Oleh karena kata fitrah mengandung makna kejadian yang di dalamnya
berisi potensi dasar beragama yang benar lurus, yaitu Islam. .Dengan
potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapa pun atau lingkungan apa pun,
karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan
baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia. Dengan demikian, ilmu
pendidikan dalam Islam bisa dikatakan berfaham
nativisme, yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dalam
hidupnya secara mutlak ditentukan oleh potensi dasarnya.
b. Mengandung kecenderungan netral, dijelaskan dalam al-Qur'an
surah An-Nahl/16: 78
ª!$#ur
Nä3y_t÷zr&
.`ÏiB
ÈbqäÜç/
öNä3ÏF»yg¨Bé&
w
cqßJn=÷ès?
$\«øx©
@yèy_ur
ãNä3s9
yìôJ¡¡9$#
t»|Áö/F{$#ur
noyÏ«øùF{$#ur
öNä3ª=yès9
crãä3ô±s?
ÇÐÑÈ
“Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur “
Menurut Mohammad Fadhil al-Djamaly yang dikutip M. Arifin
mengatakan, bahwa ayat di atas menjadi petunjuk untuk melakukan usaha
pendidikan secara eksternal oleh peserta didik.
Dengan demikian, pengertian
fitrah menurut interpretasi kedua ini, tidak dapat sejalan dengan empirisme,
karena faktor fitrah tidak hanya mengandung kemampuan dasar pasif yang beraspek
hanya pada kecerdasan semata dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu
pengetahuan, melainkan mengandung pada tabiat atau watak dan kecenderungan
untuk mengacu kepada pengaruh lingkungan eksternal sekalipun tidak aktif.
c. Konsep al-Qur'an yang menunjukkan, bahwa tiap manusia diberikan
kecenderungan nafsu untuk menjadikanya kafir bagi yang ingkar terhadap Tuhannya
dan kecenderungan yang membawa sikap bertaqwa, menaati perintah Allah swt.
Jelaslah bahwa faktor
kemampuan memilih yag terdapat dalam fitrah (human nature) manusia berpusat
pada kemampuan berfikir sehat (berakal sehat), karena akal sehat mampu
membedakan hal-hal yang benar dan yang salah. Sedangkan yang mampu memilih yang
benar secara tepat hanyalah orang-orang berpendidikan sehat.
Sejalan dengan interpretasi tersebut, maka dikatakan bahwa pengaruh
faktor lingkungan yang sengaja adalah pendidikan dan latihan berproses interaktif
dengan kemampuan fitrah manusia. Dalam pengertian ini, pendidikan dalam Islam berproses secara konvergensis yang dapat
membawa kepada paham konvergensi dalam pendidikan Islam.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu pendidikan dalam
Islam dapat berorientasi pada salah satu paham filosofis saja atau campuran
paham tesebut di atas. Namun apa pun paham filosofis yang dijadikan dasar pandangan,
ilmu pendidikan dalam Islam tetap berpijak pada kekuatan
hidayah Allah swt, yang menentukan hasil akhir.
d. Komponen psikologis dalam fitrah
Jika diperhatikan berbagai
pandangan para ulama dan ilmuwan Islam yang telah memberikan makna terhadap
istilah fitrah, maka dapat diambil kesimpulan bahwa fitrah adalah suatu
kemampuan dasar perkembangan manusia yang dianugerahkan Allah swt. kepadanya.
Karena memang manusia itu
lahir bagaikan kertas putih bersih, belum ada yang memberi warna apa pun dalam
dirinya, apakah ia menjadikannya sebagai Majusi, Nasrani, atau agama yang lurus
yaitu Islam, ini tergantung kepada orang tua atau orang dewasa yang
membimbingnya, sehingga dengan sentuhan orang lain atau lingkungan sekitarnya
baru dapat berinteraksi terhadap yang lain. Jadi peran pendidikan sangatlah
berarti baginya. Karena dengan melalui pendidikan dapat mengetahui dari belum
tahu akan menjadi tahu.
2. Teori Koneksionisme
Teori koneksionisme adalah teori yang dikembangkan oleh Edward L.
Thorndike (1874-1949).
Teori ini berpendapat bahwa belajar merupakan hubungan antara
stimulus dan respons. Itulah sebabnya koneksionisme disebut juga S-R Bond
Theory dan S-R Psychology of Learning. Di samping itu, teori ini juga terkenal
dengan sebutan Trial and Error Learning. Istilah ini menunjuk pada panjangnya
waktu atau banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan.
Dari penjelasan teori di
atas, penulis mengemukakan bahwa yang mendorong timbulnya fenomena peserta
didik belajar adalah semangat dan motivasi dari peserta didik itu sendiri
sesuai dengan harapan dan tujuan yang diinginkan dalam proses pembelajaran.
Karena tanpa dorongan semangat dan motivasi dalam diri peserta didik itu
sendiri tidak akan berhasil sesuai yang dicita-citakan. Untuk itu, sebaiknya
pemerintah sebagai penentu kebijakan khususnya dalam pendidikan memberikan
apresiasi khusus terhadap keberhasilan belajar peserta didik untuk
kesejahteraannya, agar ia lebih semangat lagi dan termotivasi dalam kegiatan
belajarnya.
3. Teori Psikologi Daya
Para ahli psikologi, kata daya identik dengan raga atau jasmani.
Raga atau jasmani mempunyai tenaga atau daya, maka jiwa juga dianggap memiliki
daya, seperti; daya untuk mengenal, mengingat, berkhayal, berpikir, merasakan,
daya menghendaki, dan sebagainya. Sebagaimana daya jasmani dapat diperkuat
dengan jalan melatihnya yaitu mengerjakan sesuatu dengan berulang-ulang, maka
daya jiwa dapat diperkuat dengan jalan melatihnya secara berulang-ulang pula.
Daya seseorang dapat dikembangkan melalui latihan, seperti; latihan
mengamati benda atau gambar, latihan mendengarkan bunyi atau suara, latihan
mengingat kata, arti kata, latihan melihat letak suatu kota dalam peta.
Latihan-latihan tersebut dapat dilakukan dengan melalui berbagai bentuk
pengulangan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa setiap
individu atau peserta didik memiliki sejumlah daya atau kekuatan dalam dirinya.
Daya-daya itu dapat dikembangkan dalam kegiatan proses pembelajaran, termasuk
daya fisik, motorik dan mentalnya, dengan latihan secara terus menerus untuk
berguna bagi dirinya.
4. Teori Gestalt
Psikologi muncul dipengaruhi
oleh psikologi gestalt, dengan tokoh-tokohnya seperti Max Wertheimer, Wolfgang
Kohler, dan Kurt Koffka. Perkataan gestalt dalam bahasa Jerman berarti suatu
konfigurasi, pola atau keseluruhan. Teori ini juga disebut psikologi organismik
atau field theori, yang bertolak dari suatu keseluruhan.
Teori ini berpendapat, bahwa belajar adalah bukan mengulangi
hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight atau
pengertian yang mendalam. Belajar menurut pandangan ini akan semakin efektif
jika materi yang akan dipelajari itu mengandung makna, yaitu jika disusun dan
disajikan dengan cara memberi kemungkinan peserta didik untuk mengerti apa-apa
yang sebelumnya, dan menganalisis hubungan satu dengan yang lain.
Berbeda dengan teori-teori
yang dikemukakan oleh tokoh behaviorisme terutama thorndike menganggap bahwa
belajar sebagai proses trial and error, teori gestalt memandang belajar adalah
proses yang didasarkan pada pemahaman (insight). Karena pada dasarnya tingkah
laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi yaitu tindakan mengenal atau
memikirkan situasi dimana tingkah laku tersebut terjadi. Pada situasi belajar,
keterlibatan seseorang secara langsung dalam situasi belajar tesebut akan
menghasilkan pemahaman yang dapat membantu individu tersebut memecahkan
masalah. Dengan kata lain, teori gestalt menyatakan bahwa yang paling penting
dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh
individu tersebut.
Oleh krena itu, teori
gestalt ini disebut teori insight. Pendapat tesebut, terdapat persamaan makna
dengan yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik yang mengatakan bahwa, prinsip
pembelajaran yang dianut oleh teori gestalt, adalah:
1) Belajar dimulai dari suatu keseluruhan menuju bagian-bagian,
2) Keseluruhan memberikan
makna bagian-bagian tersebut,
3) Bagian-bagian dilihat
dalam hubungan keseluruhan berkat individu,
4) Belajar memerlukan
pemahaman (insight),
5) Belajar memerlukan reorganisasi pengalaman yang kontinyu.
Hal tersebut menunjukkan
bahwa, belajar dengan cara berulang-ulang atau mengulangi dari semua materi
pelajaran akan lebih dimengerti dan lebih mudah dipahami daripada belajar tanpa
mengulangi materi pembelajaran. Artinya bahwa, belajar itu diperlukan
kesabaran, keuletan, dan ketekunan.
Dari beberapa uraian di
atas tentang teori-teori belajar dalam pembelajaran, penulis mengemukakan bahwa
semua teori yang para ahli kemukakan dapat dipedomani sebagai bahan referensi
dalam proses pembelajaran. Namun dalam makalah ini penulis hanya memaparkan
empat teori saja, karena semua teori ini cukup luas dan padat untuk dijadikan
teori belajar dalam pembelajaran . Terutama dan paling utama yang penulis
gunakan dalam pembelajaran adalah teori fitrah. Teori ini cukup layak digunakan
dalam proses pembelajaran, karena teori ini berpedoman kepada Al-Qur"an
dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Alasannya bahwa sumber satu-satunya belajar adalah
dari Allah SWT. beserta alam dan segala isinya, yang dapat dipelajari melalui
Al-Qur"an Hadis Nabi, seta teori-teori lainya merupakan tambahan dari
teori-teori belajar yang ada. Karena teori-teori tersebut merupakan orientalis
yang diadopsi dari teori belajar menurut Islam.
BAB
III
SIMPULAN
Dari uraian pada bab pembahasan di atas, maka penulis dapat
menyimpulkan sebagai berikut:
1. Teori merupakan sebuah sistem yang dapat diuji kebenaranya oleh
siapa pun dan terbuka untuk dikaji ulang dalam perspektif yang sama, dan
mungkin dapat digantikan dengan sebuah sistem baru, yang sudah mengalami kajian
dan penelitian lain. Sedangkan belajar merupakan proses perubahan tingkah laku
manusia berdasarkan pengalaman dan latihan, dari belum tahu menjadi tahu, dari
pengalaman yang sedikit kemudian bertambah.
2. Teori- teori belajar dalam pembelajaran meliputi:
a. Teori fitrah. Teori ini berpendapat, bahwa kemampuan dasar
perkembangan manusia merupakan anugrah dari Allah swt, yang dilengkapi dengan
berbagai potensi pada dirinya.
b. Teori koneksionisme. Teori ini berpendapat, bahwa belajar merupakan
hubungan antara stimulus dan respons.
c. Teori psikoologi daya. Teori ini berpendapat, bahwa setiap
individu atau pserta didik memiliki sejumlah daya atau kekuatan dalam dirinya
yang dapat dikembangkan dalam kegiatan proses pembelajaran baik dari dari daya
fisik, motorik maupun dari daya mentalnya dapat dikembangkan dengan melalui
latihan terus menerus.
d. Teori gestalt. Teori ini berpendapat, belajar bukan saja
mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh
insight (pengertian yang mendalam).
DAFTAR PUSTAKA
A.M, Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Cet. V;
Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994.
Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis
Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Cet. II; Jakarta: Sinar Grafika, 2006.
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran,
Cet. III; Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.
B. Hamzah, Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, Ce.
II; Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Departemen Agama RI, Al-Qur'an Al Karim dan Terjemahnya, Semarang:
Toha Putra, 1996.
Hamalik, Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Cet. I;
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.
..........................., Kurikulum dan Pembelajaran, Cet. IV;
Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Ibrahim, R. dan Nana Syaodih Sukmadinata, Perencanaan Pengajaran,
Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
Muhammad, Abdullah Ibn Ahmad Ibn Hambal, Musnad Ahmad Ibn Hambal
Juz. V, Beirut: Dar al-Fikr, t. Th.
Saleh, Abdurrahman Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan
Al-Qur'an, Cet. III; Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran: Berorienasi Standar Proses
Pendidikan, Cet. V; Jakarta: Kencana, 2008.
Suryabrata, Sumardi, Psikologi Pendidikan, Cet. I; Jakarta:
Rajawali, 1984.
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Cet. IV;
Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
silahkan copy semoga jadi ilmu bermanfaat.amin
BalasHapus